Kebebasan yang Direnggut
Penulis = Rio Nathanael
Kelas = 12 MIPA 6 / 28
“Kebebasan” adalah
kata yang sulit diucapkan bagi orang – orang yang hidupnya di bungkam dengan
rasa takut. Bagi Sebagian besar orang kebebasan adalah dapat menjalankan
kehidupan yang lancar, namun bagi yang lain, kebebasan adalah lepasnya rasa
takut yang terus membelenggu dari kehidupan mereka. Terutama bagi mereka yang
hidupnya terus dihantui oleh perang dan juga terorisme.
30 April 1980, hariku dimulai
seperti biasa. Bangun, sarapan, dan menyiapkan diri untuk berangkat kerja di
kompleks kedutaan besar di Kesington Selatan, London. Saya kerja sebagai polisi
penjaga kedutaan besar disana. Hari dimulai dengan menjaga luar kompleks dan
setelah beberapa lama saya pun istirahat dan memasuki kedutaan besar Iran
dengan maksud ingin meneduhkan diri sejenak.
Ketika
saya hendak duduk dan beristirahat, dengan tiba – tiba 6 orang menodongkan
senjatanya kepadaku dan berteriak kepada kami
“Angkat
tangannya! Jangan pikir untuk kabur jika kalian masih ingin hidup!”
Karena
sudah terkepung dan tidak dapat berbuat apa – apa saya pun mengikuti perkataan
orang tersebut.
Setelah itu, kami semua dikumpulkan
di satu ruangan di lantai 2 dan berteriak
“Jika ada yang berani melawan ataupun mencoba kabur, kalian akan ditembak
ditempat”
Didalam saku jaketku, ada Smith
& Wesson .38 kaliber revolver, aku terpikirkan untuk mengambil senjataku
dan melawan para penyerbu tersebut. Namun seorang sandera lainnya langsung
menghentikanku dan berkata
“Kamu akan membuat kita
terbunuh jika kamu mengeluarkan dan menodongkan senjata itu!!” bisiknya dengan
nada keras.
Seketika
aku pun mengubur niatku untuk mengeluarkan senjata. Karena diantara 26 sandera,
hanya akulah yang bersenjata dan juga berseragam polisi, saya tetap tenang
dengan harapan dapat membuat sandera yang lainnya ikut tenang dan tidak
bertindak seenaknya.
Suara sirene polisi terdengar dengan
jelas oleh kami, namun seketika dibungkam oleh suara tembakan yang dilepaskan
oleh para penyerbu kepada polisi. Tidak terasa hari sudah berlanjut malam,
karena kami tidak diberikan makan dan minum, tidak sedikit dari kami yang tidak
enak badan. Salah satu sandera pun ada yang dibebaskan karena wanita tersebut
sedang hamil, Ia sebenarnya sudah tidak enak badan semenjak awal penyanderaan
namun Ia menahan rasa sakit tersebut karena takut akan penyerbu tersebut.
Saya pun mengakhiri hari
dengan tidur di lantai bersama dengan sandera lainnya, sembari merenung
“Kapan ini berakhir? Apakah
aku akan mendapatkan kesempatan untuk melihat hari esok? Jika tidak, apa aku
akan dilihat sebagai polisi pecundang?”
Dini pagi hari, aku terbangun
dikarenakan salah satu penyandera tersebut meminta salah satu sandera yang
kebetulan merupakan pegawai pada studio berita BBC, untuk menelepon studio
tersebut. Telepon itu pun diambil oleh pemimpin kelompok itu, dan Ia berbincang
kepada jurnalis yang ada pada studio tersebut. Pemimpin itu bernama “Salim”
yang diwakili oleh “Faisal”.
“Kami menuntut 91 tahanan yang
ada di Iraq untuk dibebaskan” Ucap Salim. “Juga kemerdekaan provinsi Arabistan
didukung dan jaminan kami untuk kembali ke Iran dengan selamat”
“Jika tuntutan kami tidak
dipenuhi, kami akan mengeksekusi 1 sandera setiap jam-nya” lanjut Faisal, ia
pun menutup teleponnya.
Sesudah itu, para sandera pun mulai
ketakutan dan takut akan dieksekusi. Aku pun berusaha untuk menenangkan mereka
sebaik mungkin. Namun semuanya terdiam setelah Salim memasuki ruangan tersebut
dan menyuruh kami untuk diam.
“Tak, tok, tak, tok, tak, tok”
bunyi jam dinding yang ada di ruangan pun terdengar dengan keras. Semuanya
gelisah, ada yang berdoa, ada yang menulis surat wasiat untuk sanak saudara
mereka.
Keringat
dingin mulai mengucur dari sekujur tubuhku. Nafas berat. Dada sesak. Kaki
gemetar. Dirasakan oleh seluruh sandera ketika waktu akan menunjuk tenggat
waktu dari tuntutan penyandera.
Aku sendiri mulai
berpikir untuk menggunakan senjata, jika mereka benar – benar mengeksekusi
salah satu sandera.
“Jika aku harus tumbang, setidaknya aku tumbang dengan kemuliaan” pikirku.
Waktunya
pun tiba, pukul 14.00. Salim kembali menelepon dan mempertanyakan tuntutan yang
diberikan kepada pemerintah Inggris.
“Mana hal – hal yang dituntut oleh kami? Kenapa belum sampai juga??” ucap Salim
dengan kesal.
“Kami
mencoba membantu kalian, percayalah. Atasan kami tidak mudah diajak negoisasi
terutama dengan situasi politik yang sedang terjadi di Timur Tengah, pada
negara yang kalian akan kunjungi setelah semua ini selesai” ucap negoisator
dari pihak kepolisian.
“Bagaimana jika gini, berikan kami 48 jam. Maka akan kami usahakan untuk
menekan atasan kami untuk memenuhi tuntutan kalian?”
Salim
dan Faisal pun sempat berdebat, apakah harus memberikan tenggat waktu yang
lebih lama atau mulai mengeksekusi para tahanan seperti rencana awal. Suara
mereka terdengar sampai ruangan kami, karena mereka memakai Bahasa asing kami
tidak dapat mengerti. Selang beberapa menit, pertengkaran pun mereda.
“Baiklah,
kami akan menuruti perkataan kalian. Kami berikan 48 jam untuk memenuhi
tuntutan kami. Jika tidak terpenuhi kami akan kembali ke rencana awal dan mulai
eksekusinya” ucap Salim
Aku
beserta para sandera lainnya girang, karena kami mendapatkan secerah harapan
kebebasan yang menanti kami.
“Baiklah,
Terima kasih atas pengertiannya” Kata negoisator tersebut. “Bagaimana jika kami
berikan kalian dan juga para sandera makanan dan minuman? Karena di dalam
kedutaan tidak ada suplai makanan dan minuman.”
Salim
pun membalas “Boleh. Dengan syarat, yang memberikan suplai makanan dan minuman
tersebut kamu sendiri. Tidak boleh ada yang lain. Jika ada kami tidak akan
segan – segan untuk menembak.”. Sesudah itu teleponnya ditutup oleh Salim.
Tidak
lama setelah itu, para penyandera menyodorkan makanan MRE dan minuman yang
diberikan oleh polisi. Akhirnya, dahaga kami pun dapat dipuaskan, tanpa ragu
kami langsung menyantap. Namun aku sendiri harus mengurangi porsi makanan
supaya saya tidak harus pergi ke toilet.
“Kenapa
cuman makan segitu?” Ucap salah satu sandera
“Nggak apa – apa, tapi mereka bukan seleraku saja” balasku.
Aku harus menahan nafsu makan supaya
saya tidak harus ke toilet, karena jika salah satu dari kami harus ke toilet.
Ia akan di body check, karena ini aku takut senjataku ketahuan oleh
salah satu penyandera dan akan membahayakan sandera lainnya.
2 Jam kemudian, beberapa sandera ada
yang merasa sakit dan harus di cek oleh dokter. Sehingga para penyandera
meminta bantuan medis kepada polisi, namun ppihak polisi menolak karena takut
si dokter akan dijadikan sandera oleh para penyerbu. Sehingga para penyerbu
terpaksa kembali membebaskan beberapa tahanan yang sakit.
Matahari pun mulai tenggelam,
menunjukkan waktu malam telah datang. Saya pun membaringkan diri untuk tidur
dan mengakhiri hari kedua penyerbuan. Namun waktu istirahatku terganggu karena
Faisal membangunkanku dan membawaku ke lantai 4. Karena Faisal adalah anggota
paling agresif dan tidak segan – segan untuk menodongkan senjatanya kepada
kami, aku sampai berkira bahwa aku akan dieksekusi oleh dia di lantai 4.
“Ah sampai juga akhirnya, sini ikuti
aku” Ucap Salim
“Coba kau diam disitu, apakah
ada sura aneh yang muncul dari arah situ?” lanjutnya.
Aku sudah terlatih dalam situasi dan kondisi pengepungan, sehingga aku tau
suara apa itu. Itu adalah suara dari alat pendeteksi suara dan jammer.
Tapi saya khawatir jika mereka tau apa suara tersebut, mereka akan mulai
mengancam polisi lagi.
Sehingga
aku pun meyakinkan Salim bahwa suara tersebut adalah suara tikus. Untungnya,
Faisal dan Salim percaya pada kata – kataku. Sehingga mereka mengembalikan aku
ke lantai 2 dan aku pun tidur untuk mengakhiri hari.
Pada hari ke – 3, aku memulai hari
dengan bangun dan memakan sarapan yang sudah disiapkan oleh para penyandera.
Aku sempat menginisiasi percakapan dengan sandera lainnya untuk mengisi waktu
luang dan untuk membuat mereka tenang dengan percakapan kecil ini. Saya kira
pada hari ke – 3, para penyandera akan berubah pikiran akan tindakan yang
mereka telah lakukan dan menyerahkan diri kepada polisi.
Namun, secara tiba – tiba Faisal
memasuki ruangan dan berkata
“Kamu,
yang bekerja sebagai duta besar Iran. Sini ikutin” dengan suara yang keras. Seketika
seisi ruangan kembali canggung. Kemudian terdengan suara
“Hubungkan kami dengan
jurnalis BBC atau akan kutembak orang ini” terdengar suara keras dari Salim. “Kami
menuntut untuk perjalanan ke luar Inggris denga naman, hasil negosiasi dari 3
negara Arab. Kami meminta untuk tuntutann diterbitkan di media jurnalis
terutama berita”
“Baiklah
kami akan meminta bantuan negoisasi dari 3 negara Arab , dan juga berjanji akan
mempublikasikan tuntutan kalian di media berita BBC” ucap salah satu jurnalis
BBC.
Faisal
dan Salim pun mengikuti perkataan para negoisator. Namun, pada malam hari
dimana tuntutan mereka dipublikasikan, ketika tuntutannya dibacakan yang dibacakan
pada berita dan minyak, sangat berbeda dengan apa yang diminta asli oleh Salim.
Pagi hari aku sudah mendengar suara
Salim yang sedang berteriak. Pada saat itu merupakan pukul 6 dipagi hari.
“Kalian
tidak membacakan tuntutanku secara sepenuhnya!” Ucap Salim
“Kami sudah berusaha untuk mendapatkan izin dari perdana menteri, namun tidak
diizinkan oleh beliau” Kata negoisator.
“Kalian
sedang menipuku ya!?! Saya meminta untuk berbicara dengan kedutaan besar negara
– negara Arab sekarang!”
Negoisator
pun mengganti topik dengan berkata,
“Baiklah
kami akan membawakan satu lagi jurnalis dan kali ini kami akan mempublikasikannya
di BBC International News” ucap negoisator. “Namun dengan syarat 2 tahanan lagi
dibebaskan”
“Pegang
kata – katamu, karena jika kali ini kalian bebohong saya tidak akan segan –
segan untuk mengeksekusi salah satu tahanan.” Balas Salim dengan kesal. Tidak
ada kejadian signifikan setelah percakapan Salim dengan negoisator tersebut.
Sekitaran
pada pukul 15.00, kami mendengan Salim sedang menggunakan telepon untuk
berkomunikasi dengan sang jurnalis. Kami tidak dapat mendengar apa – apa karena
suara yang dipakai Salim kali ini lebih kecil disbanding biasanya.
Setelah
tidak terdengan suara Salim, kami diberikan pilihan untuk memilih 2 orang untuk
dibebaskan oleh Salim. Kami pun memilih Hiyech Kanji karena ia sedang hamil dan
juga Ali-Guil Ghanzafar karena Ia mendengkur dengan suara yang kencang sehingga
mengganggu kenyamanan tidurku juga para penyandera.
Pada
hari itu, pihak berita BBC , memegang kata – katanya dan mengpublikasikan
tuntutan mereka. Dengan ini para penyandera dapat memberikan kami ruang untuk
bernafas dengan tenang.
“Jika
ini terus berlanjut, maka pihak penyandera akan kehabisan tenaga dan juga
sandera terlebih dahulu” pikirku. Namun untungnya berkat pihak berita BBC, para
sandera sekarang dapat bersantai selagi menunggu hari cepat berakhir.
___________________________________________________________________________
Dipagi
hari, Salim berbicara dengan salah satu pegawai Kedutaan Besar Inggris. Sang
pegawai kedutaan besar meyakinkan Salim bahwa mereka ingin menyelesaikan
masalah dengan damai. Kemudian sang pegawati berkata bahwa satu per satu
tuntutan mereka akan segera dipenuhi. Salim dan juga penyerbu lainnya
kegirangan karena semua harapan dan bayangan yang mereka inginkan mulai
terwujud dengan lahan perlahan.
Karena
berita menggembirakan ini, mereka melepaskan salah satu tahanan yang bernama
Karkuoti. Dikarenakan ia sakit dan juga demam pada hari itu. Saya pun beranii
berbicara kembali dengan tahanan lainnya dikarenakan suasana hati para penyerbu
sedang senang.
Anehnya,
tidak lama setelah itu, aku dipanggi oleh Salim dan diizinkan untuk berbicara
dengan negoisator dan juga rekan polisi lainnya.
“Hallo? Apakah suaraku terdengar?” Ucapku
“Trevor!!! Apa saja yang terjadi di dalam? Apakah situasi dan kondisi tahanan
baik – baik saja?”
“Kami
diserbu secara tiba – tiba pada hari pertama, tapi situasi dan kondisi para
tahanan masih sehat”. Saya tidak bisa memberi informasi yang berguna bagi
mereka karena jika iya, maka aku akan didalam masalah yang besar.
Seperti
itulah percakapan pertamaku dengan dunia luar disaat hari ke – 5 penyanderaan
dimulai. Aku takut membuka banyak rahasia dan menjadi masalah yang dapat
membahayakan tahanan lain.
Sesaat
setelah itu, Faisal datang dan merebut juga menutup telepon yang digunakan
untuk berkomunikasi dengan para polisi. Aku pun kembali ke ruang tahanan. Dan
memberitahukan berita baik kepada tahanan lainnya bahwa kita akan segera bebas
dari penahanan.
Gelombang
kegirangan muncul dari wajah para tahanan, mereka seperti ingin segera bebas
dan menjalankan kehidupan mereka yang normal kembali lagi seperti biasa. Begitu
juga denganku yang sudah tidak sabar bertemu dengan istri dan anakku lagi…
___________________________________________________________________________
Pada
hari ke – 6, aku dibangunkan oleh Salim dan disuruh untuk mengikutinya ke
lantai 3 dikarenakan hanya akulah polisi didalam Gedung saat itu. Aku diarahkan
pada dinding yang “menggembung”, Salim percaya bahwa akan dimulai penyerangan
oleh pihak polisi dari dinding tersebut maka Salim memindahkan semua tahanan laki
– laki ke lantai atas. Aku berusaha untuk meyakinkan Salim dan penyandera
lainnya bahwa polisi tidak akan menyerang, namun usahaku sia – sia.
Pada pukul 13.00,
mulai muncul ketegangan anatar para penyerbu dan polisi…..
“Manakah
para kedutaan besar dari negara – negara Arab?!?” Terdengan suara Faisal teriak
kepada polisi
“Mereka
sedang dalam perjalanan menuju Gedung” balas polisi “Berikan kami waktu”
“Kalian
sudah terlalu banyak diberi waktu! Kamu pikir kami bercanda?”
Aku
pun dipanggil oleh Salim untuk ikut membujuk polisi untuk memberikan telepon
kepada para kedutaan besar dan memulai negoisasi, yang pada akhirnya sebenarnya
tidak ada kedutaan besar yang mau berbicara dari mereka. Sama Sekali. Saya pun
hanya bisa terjatuh lemas karena saya tahu, kali ini Faisal tidak main – main.
Ia menyeret Abbas Lavasani dari ruangan tahanan dan mengikat dia di tangga
lantai 2.
Telepon
tidak saya tutup, supaya saya dapat terus berbicara dengan para polisi. Tidak
lebih dari 40 menit kemudian, Dor, dor, dor.
Tiga tembakan
dilontarkan kepada Abbas Lavasani oleh Faisal. Para polisi pun terus bertanya,
“Trevor? Apakah itu suara tembakan? Trevor? Apa yang terjadi”
“Salah satu sandera sudah meninggal” Ucapku dengan terbata bata
Tidak
lama setelah itu, dikejutkanlah aku dengan secara tiba – tiba. Para Special Air
Service ( SAS ) yang merupakan tim pasukan khusus
Britania Raya memasuki Gedung dan terjadi banyak tembakan, ledakan, dan
teriakan yang terjadi.
Pada
akhirnya, saya selamat dari kejadian tersebut secara fisik, namun tidak secara
mental dan psikologis. Kejadiantersebut terus menghantui saya seumur hidupku.
Comments
Post a Comment